Editor: Thomas Edison/SP
Home
/
Artikel
/
Kuti Kelereng, Kayu Doi, Hingga Oto Bambu: Warisan Permainan Tradisional Yang Menumbuhkan Literasi dan Numerasi
Kuti Kelereng, Kayu Doi, Hingga Oto Bambu: Warisan Permainan Tradisional Yang Menumbuhkan Literasi dan Numerasi
Kemampuan
literasi dan numerasi merupakan fondasi utama dalam membangun sumber daya
manusia yang unggul. Literasi tidak hanya dimaknai sebagai kemampuan membaca
dan menulis, tetapi juga kemampuan memahami, menganalisis, mengomunikasikan,
serta memanfaatkan informasi untuk menyelesaikan berbagai persoalan secara nyata.
Sementara itu, numerasi merupakan kemampuan menggunakan konsep, prosedur,
fakta, dan alat matematika dalam berbagai situasi nyata.
Di Kabupaten Timor
Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur, penguatan literasi dan numerasi
dapat dilakukan melalui pendekatan yang dekat dengan kehidupan peserta didik,
salah satunya dengan memanfaatkan permainan tradisional yang telah diwariskan
secara turun-temurun.
Permainan
tradisional tidak sekadar menjadi sarana hiburan, tetapi juga mengandung nilai
pendidikan yang sangat kaya. Setiap permainan melatih kemampuan berpikir kritis, berkomunikasi,
bekerja sama, mengambil keputusan, serta memecahkan masalah. Nilai-nilai
tersebut sangat relevan dengan pembelajaran literasi dan numerasi abad ke-21.
Beberapa
permainan tradisional yang dapat digunakan sebagai pendekatan dalam meningkatkan
kemampuan literasi dan numerasi berbasis kontekstual, diantaranya: Pertama, permainan Kuti Kelereng (kaleti nise) merupakan permainan yang melatih
ketepatan, strategi, dan perhitungan. Sebelum bermain, anak-anak menghitung
jumlah kelereng yang dimiliki, menentukan urutan bermain, serta memperkirakan
jarak dan sudut tembakan.
Aktivitas ini mengembangkan kemampuan numerasi berupa
operasi hitung, pengukuran, estimasi, geometri sederhana, serta peluang
keberhasilan. Dari sisi literasi, anak belajar memahami aturan permainan,
berdiskusi mengenai strategi, dan menjelaskan langkah-langkah yang digunakan
kepada teman-temannya.
Kedua, permainan Kayu Doi (loit hau). Permainan ini mengukur ketangkasan sekaligus kemampuan menyusun
strategi. Pemain harus menghitung jumlah kayu yang berhasil dikumpulkan,
membandingkan skor, serta memperkirakan langkah terbaik agar memperoleh nilai
tertinggi. Dalam konteks numerasi, anak belajar konsep penjumlahan,
pengurangan, perbandingan, dan pengambilan keputusan berbasis data. Sementara
itu, literasi berkembang melalui kemampuan mendengarkan instruksi,
bernegosiasi, serta mengomunikasikan hasil permainan.
Ketiga, permainan Congkak (aka male) menjadi salah satu permainan tradisional yang paling kaya akan
unsur numerasi. Anak-anak melakukan proses menghitung biji secara berulang,
mengelompokkan, memperkirakan langkah berikutnya, serta menyusun strategi
berdasarkan jumlah biji di setiap lubang. Permainan ini memperkuat konsep
bilangan, pola, operasi hitung, dan penalaran logis. Literasi berkembang ketika
pemain menjelaskan strategi, memahami aturan, dan mengevaluasi permainan yang
telah dilakukan.
Keempat, permainan Gala Asing, permainan yang mengajarkan kerja sama tim, komunikasi, dan
kemampuan mengambil keputusan secara cepat. Numerasi muncul ketika pemain
memperkirakan jarak, kecepatan, waktu, dan posisi lawan. Anak juga belajar
mengenali pola pergerakan serta menentukan strategi yang paling efektif. Dari
sisi literasi, permainan ini melatih komunikasi lisan, kepemimpinan, kemampuan
memberikan instruksi, serta memahami informasi yang disampaikan anggota tim.
Kelima, permainan Batu Boi. Permainan ini dapat mengembangkan koordinasi motorik sekaligus kemampuan berhitung.
Anak menghitung jumlah batu yang berhasil diambil, mengurutkan tahap permainan,
serta mengevaluasi tingkat keberhasilan setiap putaran. Aktivitas tersebut
memperkuat konsep bilangan, urutan, pengelompokan, dan ketelitian. Literasi
berkembang melalui kemampuan mengikuti petunjuk, menjelaskan pengalaman
bermain, serta menceritakan strategi yang digunakan.
Keenam, permainan Siki Doka mengandung unsur strategi, keseimbangan, dan ketepatan gerak.
Anak-anak harus memperkirakan posisi, jarak, serta peluang keberhasilan setiap
langkah. Dalam pembelajaran numerasi, permainan ini melatih pengukuran,
estimasi, orientasi ruang, dan penalaran logis. Di sisi lain, literasi
dikembangkan melalui diskusi, penyampaian ide, kerja sama, serta kemampuan
memahami kesepakatan permainan.
Ketujuh, permainan Oto Bambu yang dibuat dari bahan-bahan sederhana seperti bambu dan kayu,
dapat mendorong anak untuk berpikir kreatif. Proses pembuatan membutuhkan
pengukuran panjang bambu, menghitung ukuran roda, menentukan keseimbangan
kendaraan, hingga menguji hasilnya. Aktivitas ini memperkuat konsep pengukuran,
perbandingan, geometri, dan pemecahan masalah. Literasi berkembang ketika anak
membaca petunjuk, berdiskusi, menjelaskan proses pembuatan, serta merefleksikan
hasil percobaan.
Kedelapan, permainan Kucing dan Tikus berbentuk lingkaran juga memiliki nilai literasi dan
numerasi yang tinggi. Anak-anak membentuk lingkaran, menentukan posisi,
menghitung giliran, memperkirakan arah gerak, dan bekerja sama untuk melindungi
teman. Konsep numerasi yang muncul meliputi pola, posisi, arah, keliling,
kecepatan, serta pengambilan keputusan berdasarkan situasi. Dari sisi literasi,
permainan ini melatih kemampuan berkomunikasi, memahami instruksi, membangun
kerja sama, serta menyampaikan informasi secara efektif.
Melalui
integrasi permainan tradisional dalam pembelajaran, guru dapat menghadirkan
pengalaman belajar yang menyenangkan, bermakna, dan kontekstual. Peserta didik
tidak hanya memahami konsep literasi dan numerasi secara teoritis, tetapi juga
mempraktikkannya dalam aktivitas nyata yang dekat dengan budaya mereka.
Pendekatan ini sekaligus menjadi upaya pelestarian kearifan lokal masyarakat
Timor Tengah Selatan sehingga permainan tradisional tetap hidup di tengah
perkembangan teknologi modern. Dengan demikian, permainan tradisional bukan
sekadar warisan budaya, melainkan media pembelajaran yang efektif untuk
membangun generasi yang cakap berliterasi, bernalar matematis, kreatif,
kolaboratif, dan bangga terhadap identitas budayanya.
Kuti Kelereng, Kayu Doi, Hingga Oto Bambu: Warisan Permainan Tradisional Yang Menumbuhkan Literasi dan Numerasi
Reviewed by Sahabat Penulis
on
July 12, 2026
Rating: 5
Reviewed by Sahabat Penulis
on
July 12, 2026
Rating: 5
Subscribe to:
Post Comments
(
Atom
)

No comments: