Editor : Thomas Edison/SP
Pendidikan Di Persimpangan: Buku Bukan Tujuan, Buku Hanya Alat
Pendidikan di Indonesia hari ini sedang bergerak
dalam dinamika perubahan. Berbagai kebijakan pembaruan terus dilakukan,
kurikulum disempurnakan, pelatihan guru digencarkan dan wacana transformasi
pendidikan semakin menguat. Secara konseptual, arah pendidikan kita sudah jelas,
yakni pembelajaran harus berpusat pada peserta didik, kontekstual dan membekali
peserta didik dengan kompetensi abad ke-21.
Namun
jika kita masuk lebih jauh ke
ruang-ruang kelas, realitasnya tidak selalu
seideal gagasan kebijakan. Di banyak kelas, pembelajaran masih berlangsung
dengan pola lama: guru menjelaskan, peserta didik mencatat, lalu buku teks
menjadi pusat sekaligus batas dari proses belajar. Di sinilah pendidikan berada
di sebuah persimpangan.
Di satu
sisi, kurikulum nasional, terutama Kurikulum
Merdeka memberikan ruang kebebasan dan fleksibilitas kepada guru untuk
menyesuaikan pembelajaran dengan kebutuhan nyata peserta didik. Namun di sisi
lain, praktik di lapangan masih menunjukkan kecenderungan lama: buku teks
dijadikan tujuan utama pembelajaran. Akibatnya, proses belajar sering kali
berjalan rapi di atas kertas, tetapi jauh dari realitas peserta didik.
Buku Teks dan
Kekeliruan Cara Pandang
Buku pelajaran sejatinya adalah alat
bantu. Ia disusun untuk memberikan contoh, struktur, dan rujukan bagi guru dan peserta
didik. Masalah muncul ketika buku diperlakukan seolah-olah ia adalah kurikulum
itu sendiri. Banyak guru merasa "aman" ketika semua halaman buku
selesai dibahas, meskipun peserta didik tidak memahami atau tidak mampu
mengaitkan materi dengan kehidupan mereka.
Cara pandang ini keliru. Kurikulum
tidak pernah menuntut guru untuk menghabiskan buku, melainkan menuntut
tercapainya tujuan pembelajaran. Buku hanyalah salah satu jalan menuju tujuan
itu, bukan tujuan akhirnya.
Kurikulum: Memberi
Ruang dan Guru yang Menentukan Arah
Kurikulum Merdeka secara eksplisit
memberikan fleksibilitas kepada guru. Guru diberi kewenangan untuk memilih
materi, menentukan kedalaman dan menyesuaikan konteks pembelajaran sesuai
dengan karakteristik peserta didik serta lingkungan sekolah. Artinya, guru tidak
hanya boleh, tetapi justru diharapkan untuk bersikap adaptif.
Sayangnya, fleksibilitas ini belum
sepenuhnya dimanfaatkan. Di banyak sekolah, terutama di daerah rural (pedesaan), guru
masih terjebak pada ketakutan keluar dari buku. Padahal, peserta didik di
wilayah tersebut memiliki konteks sosial, ekonomi dan budaya yang sangat
berbeda dengan konteks yang sering diasumsikan oleh buku teks nasional.
Adaptif Bukan
Berarti Menyimpang
Perlu ditegaskan bahwa pembelajaran
adaptif bukan berarti mengabaikan konsep keilmuan. Konsep dasar setiap rumpun mata pelajaran seperti IPS, IPA,
Fisika, Biologi, maupun Bahasa Inggris tetap sama. Perubahan mendasarnya adalah cara
menyajikan dan contoh yang digunakan.
Seperti membahas ekonomi tidak harus selalu
dimulai dari pasar global jika peserta didik hidup di sekitar pasar desa.
Mempelajari ekosistem tidak harus memberi contoh hutan Amazon, bila sawah,
sungai dan kebun ada di depan mata. Mengajarkan bahasa Inggris tidak harus
dimulai dari teks panjang yang asing, ketika peserta didik bahkan belum mampu
memperkenalkan diri secara lisan. Adaptasi bukan penyimpangan, adaptasi adalah
bentuk tanggung jawab profesional guru.
Guru: Perancang,
Bukan Operator Buku
Guru bukanlah operator yang bertugas
menjalankan isi buku dari halaman pertama hingga terakhir. Guru adalah
perancang pembelajaran. Ia dituntut untuk menganalisis kebutuhan peserta didik,
membaca konteks lingkungan dan merancang pengalaman belajar yang bermakna.
Ketika guru hanya mengikuti buku
tanpa refleksi, yang hilang bukan hanya relevansi, tetapi juga esensi
pendidikan itu sendiri. Pendidikan seharusnya membekali peserta didik dengan
pemahaman, keterampilan dan keberanian berpikir, bukan sekadar hafalan materi.
Pendidikan hari ini benar-benar
berada di persimpangan. Kita bisa terus memilih jalan lama yang nyaman yaitu menjadikan
buku sebagai tujuan dan ukuran keberhasilan, atau kita bisa memilih jalan yang lebih
menantang tetapi bermakna yaitu menjadikan buku sebagai alat dan peserta didik sebagai
pusat pembelajaran.
Jika kurikulum sudah memberi ruang,
maka tanggung jawab moral dan profesional ada pada guru untuk memanfaatkannya.
Sebab pada akhirnya, keberhasilan pendidikan tidak diukur dari berapa halaman
buku yang selesai, tetapi dari sejauh mana peserta didik mampu memahami,
mengaitkan dan menggunakan apa yang mereka pelajari dalam kehidupan nyata.
Pendidikan Di Persimpangan: Buku Bukan Tujuan, Buku Hanya Alat
Reviewed by Sahabat Penulis
on
February 17, 2026
Rating: 5
Reviewed by Sahabat Penulis
on
February 17, 2026
Rating: 5
Subscribe to:
Post Comments
(
Atom
)

Terkadang kita harus melihat kembli sumber atau latar belakang permasalahan mengapa guru selalu terpaku pada buku ajar padahal buku hnyalah salah satu sumber belajar untuk mendukung tercapainya TP, siapakah yang hendaknya disalahkan atas ketimpangan ini?
ReplyDeleteSampai disini haruskah kita bertanya pada rumput yang bergoyang😅
Salam Pancasila👋
alasan klasik yang mendasari hal tersebut adalah kapasitas kemampuan guru belum cukup untuk menerapkan sistem pendidikan yang lebih efektif.
Delete