Pendidikan Di Persimpangan: Buku Bukan Tujuan, Buku Hanya Alat

Wilem Andro Benu, S.Pd.
Guru Bahasa Inggris di SMPN Abi, Kabupaten TTS



Pendidikan di Indonesia hari ini sedang bergerak dalam dinamika perubahan. Berbagai kebijakan pembaruan terus dilakukan, kurikulum disempurnakan, pelatihan guru digencarkan dan wacana transformasi pendidikan semakin menguat. Secara konseptual, arah pendidikan kita sudah jelas, yakni pembelajaran harus berpusat pada peserta didik, kontekstual dan membekali peserta didik dengan kompetensi abad ke-21.

Namun jika kita masuk lebih jauh ke 
ruang-ruang kelas, realitasnya tidak selalu seideal gagasan kebijakan. Di banyak kelas, pembelajaran masih berlangsung dengan pola lama: guru menjelaskan, peserta didik mencatat, lalu buku teks menjadi pusat sekaligus batas dari proses belajar. Di sinilah pendidikan berada di sebuah persimpangan.

Di satu sisi, kurikulum nasional, terutama Kurikulum Merdeka memberikan ruang kebebasan dan fleksibilitas kepada guru untuk menyesuaikan pembelajaran dengan kebutuhan nyata peserta didik. Namun di sisi lain, praktik di lapangan masih menunjukkan kecenderungan lama: buku teks dijadikan tujuan utama pembelajaran. Akibatnya, proses belajar sering kali berjalan rapi di atas kertas, tetapi jauh dari realitas peserta didik.

Buku Teks dan Kekeliruan Cara Pandang

Buku pelajaran sejatinya adalah alat bantu. Ia disusun untuk memberikan contoh, struktur, dan rujukan bagi guru dan peserta didik. Masalah muncul ketika buku diperlakukan seolah-olah ia adalah kurikulum itu sendiri. Banyak guru merasa "aman" ketika semua halaman buku selesai dibahas, meskipun peserta didik tidak memahami atau tidak mampu mengaitkan materi dengan kehidupan mereka.

Cara pandang ini keliru. Kurikulum tidak pernah menuntut guru untuk menghabiskan buku, melainkan menuntut tercapainya tujuan pembelajaran. Buku hanyalah salah satu jalan menuju tujuan itu, bukan tujuan akhirnya.

Kurikulum: Memberi Ruang dan Guru yang Menentukan Arah

Kurikulum Merdeka secara eksplisit memberikan fleksibilitas kepada guru. Guru diberi kewenangan untuk memilih materi, menentukan kedalaman dan menyesuaikan konteks pembelajaran sesuai dengan karakteristik peserta didik serta lingkungan sekolah. Artinya, guru tidak hanya boleh, tetapi justru diharapkan untuk bersikap adaptif.

Sayangnya, fleksibilitas ini belum sepenuhnya dimanfaatkan. Di banyak sekolah, terutama di daerah rural (pedesaan), guru masih terjebak pada ketakutan keluar dari buku. Padahal, peserta didik di wilayah tersebut memiliki konteks sosial, ekonomi dan budaya yang sangat berbeda dengan konteks yang sering diasumsikan oleh buku teks nasional.

Adaptif Bukan Berarti Menyimpang

Perlu ditegaskan bahwa pembelajaran adaptif bukan berarti mengabaikan konsep keilmuan. Konsep dasar setiap rumpun mata pelajaran seperti IPS, IPA, Fisika, Biologi, maupun Bahasa Inggris tetap sama. Perubahan mendasarnya adalah cara menyajikan dan contoh yang digunakan.

Seperti membahas ekonomi tidak harus selalu dimulai dari pasar global jika peserta didik hidup di sekitar pasar desa. Mempelajari ekosistem tidak harus memberi contoh hutan Amazon, bila sawah, sungai dan kebun ada di depan mata. Mengajarkan bahasa Inggris tidak harus dimulai dari teks panjang yang asing, ketika peserta didik bahkan belum mampu memperkenalkan diri secara lisan. Adaptasi bukan penyimpangan, adaptasi adalah bentuk tanggung jawab profesional guru.

Guru: Perancang, Bukan Operator Buku

Guru bukanlah operator yang bertugas menjalankan isi buku dari halaman pertama hingga terakhir. Guru adalah perancang pembelajaran. Ia dituntut untuk menganalisis kebutuhan peserta didik, membaca konteks lingkungan dan merancang pengalaman belajar yang bermakna.

Ketika guru hanya mengikuti buku tanpa refleksi, yang hilang bukan hanya relevansi, tetapi juga esensi pendidikan itu sendiri. Pendidikan seharusnya membekali peserta didik dengan pemahaman, keterampilan dan keberanian berpikir, bukan sekadar hafalan materi.

Pendidikan hari ini benar-benar berada di persimpangan. Kita bisa terus memilih jalan lama yang nyaman yaitu menjadikan buku sebagai tujuan dan ukuran keberhasilan, atau kita bisa memilih jalan yang lebih menantang tetapi bermakna yaitu menjadikan buku sebagai alat dan peserta didik sebagai pusat pembelajaran.

Jika kurikulum sudah memberi ruang, maka tanggung jawab moral dan profesional ada pada guru untuk memanfaatkannya. Sebab pada akhirnya, keberhasilan pendidikan tidak diukur dari berapa halaman buku yang selesai, tetapi dari sejauh mana peserta didik mampu memahami, mengaitkan dan menggunakan apa yang mereka pelajari dalam kehidupan nyata.



Editor : Thomas Edison/SP


Pendidikan Di Persimpangan: Buku Bukan Tujuan, Buku Hanya Alat Pendidikan Di Persimpangan: Buku Bukan Tujuan, Buku Hanya Alat Reviewed by Sahabat Penulis on February 17, 2026 Rating: 5

2 comments:

  1. Terkadang kita harus melihat kembli sumber atau latar belakang permasalahan mengapa guru selalu terpaku pada buku ajar padahal buku hnyalah salah satu sumber belajar untuk mendukung tercapainya TP, siapakah yang hendaknya disalahkan atas ketimpangan ini?
    Sampai disini haruskah kita bertanya pada rumput yang bergoyang😅
    Salam Pancasila👋

    ReplyDelete
    Replies
    1. alasan klasik yang mendasari hal tersebut adalah kapasitas kemampuan guru belum cukup untuk menerapkan sistem pendidikan yang lebih efektif.

      Delete

Powered by Blogger.