Literasi dan Numerasi: Lebih Dari Sekadar Membaca dan Berhitung

Thomas E. Kabu, S.Pd., Gr., CTMM., C.Ed., C.BE.
Pendiri Rumah Literasi Thomas Edison 




Kondisi pendidikan di Indonesia saat ini masih menghadapi tantangan serius dalam hal literasi dan numerasi. Di banyak satuan pendidikan, literasi kerap dimaknai sebatas kemampuan membaca lancar, sementara numerasi dipahami hanya sebagai kecakapan berhitung dasar. Padahal, dalam kerangka kebijakan pendidikan nasional melalui Asesmen Kompetensi Minimum (AKM), kedua kompetensi ini memiliki makna yang jauh lebih luas dan mendalam.


Selama bertahun-tahun, praktik pembelajaran di kelas sering berfokus pada penyelesaian soal-soal rutin dan penguasaan materi secara prosedural.      Murid dinilai berhasil jika mampu membaca teks tanpa terbata-bata atau menyelesaikan operasi hitung dengan benar. Namun, kenyataan menunjukkan bahwa kemampuan tersebut belum tentu mencerminkan kecakapan memahami informasi, menganalisis persoalan, serta mengambil keputusan berbasis data. Di sinilah muncul kesenjangan antara pemahaman tradisional tentang literasi dan numerasi dengan tuntutan AKM.


Dalam AKM, literasi tidak hanya mengukur kemampuan membaca teks secara harfiah. Murid dituntut memahami ide pokok, menafsirkan makna tersirat, mengevaluasi argumen, hingga merefleksikan isi bacaan dalam konteks kehidupan nyata. Teks yang disajikan pun bervariasi, mulai dari cerita pendek, artikel ilmiah populer, hingga infografis dan tabel informasi. Artinya, murid harus mampu membaca secara kritis, bukan sekadar mengeja dan menjawab pertanyaan faktual.


Begitu pula dengan numerasi. Dalam AKM, numerasi mengukur kemampuan bernalar menggunakan konsep matematika dalam berbagai konteks. Soal-soal tidak selalu berbentuk perhitungan langsung, melainkan disajikan dalam bentuk masalah kontekstual yang membutuhkan pemahaman situasi, analisis data dan penarikan kesimpulan. Murid mungkin diminta menafsirkan grafik, membandingkan informasi kuantitatif, atau menentukan strategi penyelesaian masalah berdasarkan data yang tersedia. Kompleksitas ini menuntut kemampuan berpikir tingkat tinggi, bukan sekadar hafalan rumus.


Realitas di lapangan menunjukkan bahwa sebagian murid masih kesulitan ketika dihadapkan pada soal berbasis konteks. Mereka terbiasa dengan soal yang memiliki pola serupa dengan contoh di buku, sehingga ketika bentuk soal berubah, mereka kehilangan arah. Hal ini mengindikasikan bahwa proses pembelajaran belum sepenuhnya mendorong pengembangan kemampuan berpikir kritis dan penalaran mendalam.


Bagi sekolah, kondisi ini menjadi refleksi penting. Literasi dan numerasi seharusnya tidak hanya menjadi tanggung jawab guru Bahasa Indonesia atau Matematika. Semua mata pelajaran memiliki peran strategis dalam membangun budaya berpikir kritis dan analitis. Guru IPA dapat melatih murid membaca tabel dan grafik hasil percobaan. Guru IPS dapat mengajak murid menganalisis data sosial dan ekonomi. Bahkan dalam pelajaran seni dan olahraga, murid dapat diajak memahami instruksi tertulis atau menghitung skor dan strategi permainan secara logis.


Guru perlu menggeser pendekatan pembelajaran dari sekadar transfer materi menjadi proses eksplorasi dan diskusi. Pertanyaan terbuka, studi kasus, pembelajaran berbasis proyek, serta refleksi bersama dapat menjadi strategi untuk memperkuat literasi dan numerasi. Ketika murid dibiasakan menjelaskan alasan di balik jawabannya, mereka belajar membangun argumen dan memperdalam pemahaman.


Orang tua pun memiliki peran krusial dalam membentuk fondasi literasi dan numerasi anak. Di rumah, kebiasaan membaca bersama, berdiskusi tentang berita, atau melibatkan anak dalam pengelolaan anggaran sederhana dapat menjadi latihan nyata yang bermakna. Dukungan lingkungan keluarga yang kaya akan percakapan dan stimulasi intelektual akan memperkuat kompetensi yang dikembangkan di sekolah.


Dengan memahami bahwa literasi dan numerasi dalam AKM menuntut kemampuan berpikir kompleks, seluruh pemangku kepentingan pendidikan perlu berkolaborasi. Pendidikan Indonesia tidak cukup hanya menghasilkan murid yang bisa membaca dan berhitung, tetapi harus melahirkan generasi yang mampu memahami informasi secara kritis, mengolah data secara logis dan mengambil keputusan secara bijak. Di sinilah literasi dan numerasi menemukan maknan yang sesungguhnya sebagai bekal hidup di tengah dinamika zaman.



Editor : Thomas Edison/SP


Literasi dan Numerasi: Lebih Dari Sekadar Membaca dan Berhitung Literasi dan Numerasi: Lebih Dari Sekadar Membaca dan Berhitung Reviewed by Sahabat Penulis on February 17, 2026 Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.