Pendidikan dan literasi adalah dua kata yang kerap diucapkan bersamaan, namun sering kali dipahami secara terpisah. Pendidikan dipersempit maknanya menjadi aktivitas formal di ruang kelas, sementara literasi direduksi hanya sebatas kemampuan membaca dan menulis. Padahal, dalam konteks pembangunan manusia dan peradaban bangsa, keduanya adalah satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Pendidikan sejati bertumpu pada literasi, dan literasi yang bermakna hanya dapat tumbuh melalui proses pendidikan yang memerdekakan.
Di tengah berbagai tantangan zaman, mulai dari disrupsi teknologi, perubahan sosial budaya, hingga krisis nilai pendidikan Indonesia dihadapkan pada satu pertanyaan mendasar: apakah pendidikan kita sudah sungguh-sungguh melahirkan manusia yang mampu berpikir kritis, bernalar logis, berempati, dan bertanggung jawab sebagai warga bangsa? Ataukah pendidikan masih sebatas rutinitas administratif dan seremonial, yang jauh dari cita-cita mencerdaskan kehidupan bangsa?
Literasi Lebih dari Sekadar Membaca
Literasi bukan sekadar kemampuan mengenal huruf, membaca kata, atau menulis kalimat. Literasi adalah kemampuan memahami, mengolah, dan menggunakan informasi untuk mengambil keputusan yang tepat dalam kehidupan. Literasi mencakup literasi baca-tulis, numerasi, sains, digital, finansial, budaya, dan kewargaan. Dalam pengertian ini, literasi adalah fondasi utama bagi terbentuknya manusia yang merdeka berpikir.
Sayangnya, praktik pendidikan di banyak sekolah masih memandang literasi sebagai program tambahan, bukan sebagai ruh pembelajaran. Gerakan literasi sering kali berhenti pada aktivitas membaca 15 menit sebelum pelajaran dimulai, tanpa diiringi dengan budaya diskusi, refleksi, dan pemaknaan. Buku dibaca, tetapi tidak dipahami secara kritis. Teks ditulis, tetapi tidak lahir dari proses berpikir yang mendalam.
Literasi seharusnya hadir dalam setiap mata pelajaran, termasuk matematika, sains, dan pendidikan vokasi. Peserta didik perlu dilatih membaca soal dengan cermat, menafsirkan data, menghubungkan konsep dengan konteks kehidupan, serta mengomunikasikan gagasan secara logis dan sistematis.
Pendidikan sebagai Proses Humanisasi
Hakikat pendidikan adalah memanusiakan manusia. Pendidikan bukan sekadar transfer pengetahuan, tetapi proses pembentukan karakter, nilai, dan kesadaran. Paulo Freire menyebut pendidikan sejati sebagai proses pembebasan, di mana peserta didik tidak diperlakukan sebagai objek, melainkan sebagai subjek yang aktif berpikir dan bertindak.
Dalam konteks ini, literasi berperan sebagai alat pembebasan. Melalui literasi, peserta didik belajar mempertanyakan realitas, memahami persoalan sosial, dan merumuskan solusi. Tanpa literasi yang kuat, pendidikan berisiko melahirkan generasi yang patuh tetapi tidak kritis, cerdas secara akademik tetapi rapuh secara moral.
Guru memiliki peran sentral dalam proses ini. Guru bukan sekadar pengajar materi, melainkan fasilitator belajar dan teladan literasi. Guru yang gemar membaca, menulis, dan berdiskusi akan menularkan semangat literasi kepada peserta didiknya. Sebaliknya, sulit berharap lahir budaya literasi di sekolah jika guru sendiri tidak akrab dengan buku dan gagasan.
Tantangan Literasi di Daerah
Kesenjangan literasi masih menjadi persoalan serius, terutama di daerah-daerah tertinggal, terdepan, dan terluar. Akses terhadap buku bermutu, perpustakaan layak, dan sumber belajar digital masih terbatas. Di banyak tempat, literasi belum menjadi kebutuhan, melainkan kemewahan.
Namun, keterbatasan tidak boleh dijadikan alasan untuk menyerah. Justru di tengah keterbatasan itulah kreativitas dan komitmen diuji. Rumah literasi, taman baca masyarakat, dan komunitas belajar adalah bukti bahwa gerakan literasi dapat tumbuh dari akar rumput. Ketika masyarakat, guru, dan relawan bergerak bersama, literasi menjadi gerakan kultural, bukan sekadar program proyek.
Pendidikan berbasis konteks lokal juga menjadi kunci. Literasi akan lebih bermakna jika dikaitkan dengan budaya, bahasa, dan realitas kehidupan setempat. Melalui pendekatan ini, peserta didik tidak hanya belajar memahami teks, tetapi juga memahami dirinya dan lingkungannya.
Kurikulum dan Literasi
Kurikulum Merdeka membuka ruang yang lebih luas bagi penguatan literasi. Pembelajaran berbasis proyek, diferensiasi, dan penguatan profil pelajar Pancasila memberikan peluang bagi guru untuk mengintegrasikan literasi secara kreatif. Namun, kurikulum yang baik tidak akan bermakna tanpa kesiapan dan kesadaran pelaksana di lapangan.
Literasi harus menjadi napas dalam perencanaan pembelajaran, asesmen, dan refleksi. Soal-soal yang menuntut penalaran, analisis, dan argumentasi perlu diperbanyak. Peserta didik harus diberi ruang untuk bertanya, berpendapat, dan menulis dengan suara mereka sendiri.
Di sinilah pentingnya pelatihan dan pendampingan guru secara berkelanjutan. Guru perlu didukung untuk terus belajar, berefleksi, dan berinovasi. Pendidikan literasi tidak bisa dibangun secara instan; ia membutuhkan proses panjang dan konsistensi.
Menuju Ekosistem Literasi
Pendidikan dan literasi tidak dapat dipisahkan dari ekosistem yang mendukung. Keluarga, sekolah, masyarakat, dan pemerintah memiliki peran masing-masing. Orang tua yang membiasakan anak membaca di rumah, sekolah yang menyediakan ruang baca yang ramah, komunitas yang menghidupkan diskusi, serta kebijakan publik yang berpihak pada pengembangan literasi semuanya saling terkait.
Literasi juga perlu dipandang sebagai investasi jangka panjang. Hasilnya mungkin tidak langsung terlihat, tetapi dampaknya sangat menentukan kualitas sumber daya manusia. Bangsa yang literat adalah bangsa yang mampu bertahan dan beradaptasi di tengah perubahan.
Pendidikan tanpa literasi adalah bangunan tanpa fondasi. Literasi tanpa pendidikan adalah benih tanpa tanah yang subur. Keduanya harus berjalan beriringan untuk melahirkan manusia Indonesia yang cerdas, berkarakter dan berdaya saing.
Sebagai guru dan pegiat literasi, saya meyakini bahwa perubahan selalu dimulai dari langkah kecil yang dilakukan secara konsisten. Satu buku yang dibaca, satu tulisan yang ditulis, satu diskusi yang dihidupkan semuanya adalah bagian dari ikhtiar panjang mencerdaskan kehidupan bangsa.
Pendidikan yang berakar pada literasi adalah jalan panjang menuju manusia merdeka berpikir. Dan di jalan panjang itulah, kita semua dipanggil untuk berjalan bersama.
Editor: Thomas Edison/SP

No comments: