GURU SEBAGAI SOLUSI, BUKAN POLUSI

Oleh: Semuel Radja Pono, S.Pd., Gr
Guru Bahasa Indonesia di SMAN Nunbena

Pendidikan merupakan jendela mengenal berbagai peradaban dunia, dengan pendidikan manusia dapat mengetahui berbagai sudut pandang kehidupan. Dalam pengembangan pondasi sebuah negara pendidikan berperan sangat penting. Bagi negara maju dan berkembang pendidikan menjadi landasan perkembangan pertumbuhan ekonomi dan kesajahteraan sebuah masyarakat. Masih terngiang dalam benak kita, bagaimana negara Jepang dilumpuhkan pada saat perang dunia kedua berlangsung, akan tetapi mereka mampu bangkit dari keterpurukan setelah kekalahan dalam perang tersebut. 

Pada saat Naga Saki dan Hiro Sima di hancurkan, kaisar jepang tidak menanyakan tentang seberapa besar kekuatan militer atupun kekuatan ekonomi yang masih ada di Jepang, akan tetapi ia menanyakan “apakah masih ada seorang guru yang masih hidup di jepang?” ini pertanda bahwa kemajuan sebuah bangsa bukan karena semata ekonomi dan militernya saja akan tetapi pendidikan menjadi pondasi terkuat dalam mengembangkan kemakmuran masyarakat sebuah negara.

Hal ini juga yang dilakukan oleh negara kita, berbagai program dilakukan untuk menghadirkan pendidikan bagi setiap masyarakat sesuai yang terdapat dalam undang-undang kita, dimana negara menjamin hak setiap warga negara untuk mendapatkan pendidikan. Kita tahu pada masa kepemimpinan Pak Soeharto ada program wajib sekolah, dimana setiap anak yang memiliki usia sekolah harus mendapatkan pendidikan yang layak, selain itu kalau kita merujuk pada masa penjajahan banyak pendiri bangsa kita yang bersedia sekolah demi bisa memiliki pemikiran yang absolude dalam memperjuangkan kemerdekaan. Karena bagi pemikir-pemikir bangsa, berpendidikan itu bukan bergantung tentang dimana ia bersekolah dan dari siap ia mendapatkan pembelajaran, akan tetapi bagaimana ia harus mampu menerima setiap pelajaran sehingga menjadi bekal baginya dikemudian hari.

Selain itu lembaga pendidikan juga berdiri menjadi wadah yang siap menerima setiap manusia yang bersedia untuk dimodernisasikan dengan menggunakan pola pembelajaran yang merata. Dimana para pendidik dengan suka hati berusaha memperkaya para siswa dengan berbagai macam ilmu, bahkan para pendidik tidak melakukan tebang pilih dalam memberikan pembelajaran. Dimata pendidik setiap manusia dianggap sama dalam mendapatkan pendidikan, tergantung dari setiap siswa itu sendiri, apakah mau untuk di didik atau tidak. 

Akan tetapi apabila kita merujuk pada pendidikan jaman dahulu, antar guru dan peserta didik memiliki rasa saling membutuhkan, dimana para peserta didik merasa ilmu yang dimiliki oleh para guru merupakan sebuah harta yang hurus mereka dapatkan, dan sebaliknya para guru juga menganggap para peserta didik merupakan sebuah kertas putih polos yang harus diberikan coretan yang indah dan berguna. Hal inilah yang menjadi kesuksesan para pemikir-pemikir bangsa pada saat itu, walaupun mereka bersekolah disekolah asing, akan tetapi semangat belajar dan semangat perjuangan mereka menjadi api penyulut keberhasilan.

Harapan dan kerinduan akan semangat pendidikan yang sama dengan masa para pemikir-pemikir bangsa menjadi harapan emas dari bangsa ini.  Walaupun pada masa itu banyak guru yang demi berkembangnya negara mereka mengajar tampa mengenal akan pamrih yang mereka dapatkan, upah tak pernah mereka harapkan, yang mereka pikirkan adalah bagaimana menghilangkan kebodohan dinegeri ini agar para penerus bangsa mendapatkan hidup yang layak dan tidak dijajah lagi baik oleh negeri lain maupun oleh kebodohan.  Pahlawan tampa tanda jasa menjadi gelar terindah, bukan sungutan yang mereka beri tapi senyuman yang mereka wariskan.

Akan tetapi warisan yang ditinggalkan para pemikir bangsa dalam pengembangan pendidikan semua menjadi sirna, dimana pada jaman sekarang banyak orang yang menjadi guru bukan karena landasan pelayanan untuk mengabdi pada pemberantasan kebodohan dan penegakan pondasi bangsa, akan tetapi mereka memilih menjadi guru karena beralaskan lapangan kerja. Oleh sebab itu guru bukan lagi sebagai sebuah privasi yang mulia akan tetapi guru dianggap sebagai solusi dalam dunia pekerjaan.

Disini banyak kita lihat bahwa guru yang awalnya menjadi sumber inspirasi perkembangan pola pikir telah berevolusi menjadi pengisi kekosongan lapangan kerja yang mengedepankan pendapatan. Hal inilah yang menjerat bahkan mematikan kualitas pendidikan sekarang ini. 

Keterpurukan kualitas pendidikan dikarenakan tidak sedikit guru yang hanya sebagai pelengkap dalam lembaga pendidikan, dimana banyak guru yang tidak mampu bersaing dengan perkembangan zaman yang ada sehingga ia menempatkan diri pada kenyamanan pola pikir yang tidak hanya memenjarakan dirinya dari ketertinggalan tetapi juga menjerumuskan generasi penerus dalam ketertinggalan pola pikir yang tidak sesuai dengan perkembangan zaman yang ada. Ditambah lagi dengan tidak maunya belajar untuk berkembang menjadi problematika yang paling besar dalam perkembangan seorang guru.
Banyak guru yang menganggap bahwa perkembangan pendidikan sekarang ini hanyalah sebagai sebuah rutinitas yang mempersulit guru, tampa melihat bahwa zaman telah mengalami transisi yang perlu di pahami dan di mengerti oleh setiap guru. 

Guru yang dulunya sebagai sumber ilmu sekarang sudah beralih sebagai motivator pendidikan, guru mengalami transisi fungsi sebagai penghubung antara siswa dan ilmu itu sendiri, akan tetapi masih banyak guru yang belum sadar akan peran nya yang harus ia lakukan. 

Banyak guru yang masih berasumsi bahwa ia merupakan sumber dari ilmu itu, sehingga ia lebih banyak menjadi suplayer daripada dia menjadi motifator antara siswa dan ilmu itu sendiri. Dan yang paling ironinya guru-guru ini menganggap bahwa perubahan hanya sebagai masalah yang disengajakan untuk memperumit guru dalam mengajar dan berkarya.

Banyak program pengembangan pendidikan yang sudah dihadirkan oleh pemerintah sebagi solusi bagi guru di setiap lembaga pendidikan demi mendekatkan pelayanan pendidikan yang sesuai dengan keperluan peerta didik dan perkembangan jaman, akan tetapi semuanya ini perlu kesadaran dari setiap insan pendidikan, apakah mau menerima, mempelajarai, dan menggunakan program-program yang sudah di sediakan atau malah menjadikan ini sebagai masalah baru bagi setiap guru. 

Melihat akan hal ini guru yang profesioanal adalah guru yang mampu memberikan solusi bagi lembaga pendidikan pada umumnya dan peserta didik pada kususnya dalam hal mencapai visi misi pendidikan, bukan malah menjadi polusi yang memperhambat kemajuan pendidikan di sebuah lembaga pendidikan. Banyak guru yang sudah tidak sanggup berkembang, dan malas belajar sesuai kebutuhan malah menjadi provokator ulung untuk memperkeruh dan melemahkan sesama teman dalam memulai perubahan di sebuah lembaga pendidikan. 

Guru-guru seperti inilah yang menjadi polusi perkembangan pendidikan di sebuah lembaga pendidikan dan memperlambat pertumbuhan pendidikan peserta didik, oleh sebab itu lembaga pendidikan dalam hal ini dinas maupun para pemangku kepentingan dalam lembaga pendidikan perlu melakukan pengembangan dalam konteks manejerial guru demi memanilisir oknum-oknum guru yang tidak mau berkembang tetapi menjadi penyebab kemunduran kualitas pendidikan.

Dengan dilakukan penguatan manejerial guru secara bertahap dengan menggunakan komunitas belajar guru, dan disertai sistem terkontrol yang kuat dari pemimpin lembaga pendidikan, pengawas maupun pemangku kepentingan lainnya maka akan menekan dan merubah karakter guru polusi menjadi guru revolusi di sebuah lembaga pendidikan, selain itu dengan berkembangnya kualitas guru maka komunitas belajar sekolah akan berjalan dengan baik dan menjadi ujung tombak perubahan sebuah lembaga pendidikan. Hal ini dapat terjadi karena dengan makin kreatif dan aktifnya guru dalam lembaga pendidikan, maka problem-problem yang ada dapat diselesaikan secara bersama dan efesien.

Oleh sebab itu sebagai guru yang professional, harus mampu melihat perkembangan dunia secara fleksibel dan bisa beradaptasi secara baik sesuai dengan kebutuhan peserta didik. Pendidikan diciptakan untuk menciptkan generasi unggul dari orang-orang yang memiliki kualitas unggul, baik secara pola pikir, karakter maupun kreatifitas. Karena kualitas seorang peserta didik akan mencerminkan karakter dari pendidiknya.


Editor: Thomas Edison/SP


GURU SEBAGAI SOLUSI, BUKAN POLUSI GURU SEBAGAI SOLUSI, BUKAN POLUSI Reviewed by Sahabat Penulis on July 13, 2026 Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.